Nama : Fachri Widi Partyadi
NIM : 1400410001
Brian, Sang Peraih Mimpi
Di sebuah kota di daerah Asgard, terdapat beberapa sekolah yang proses
pengajarannya berfokus kepada ekstrakulikuler sepak bola. Asgard adalah sebuah
kota yang melayang diatas langit dan biasanya disebut sebagai kota terbang. Salah
satu sekolah yang terkenal adalah sekolah Einherjar. Sekolah Einherjar adalah
sebuah sekolah berasrama yang terletak di pinggiran kota Asgard dan sangat
terkenal dengan lulusannya yang sangat lihai dalam bermain dan mengolah bola. Sekolah
Einherjar mempunyai sebuah tiga buah lapangan sepak bola dengan luas lapangan
yang beragam. Ada lapangan yang berukuran 30 x 60 meter untuk tempat pelatihan
sepak bola. Ada lapangan yang berukuran 60 x 90 meter dan digunakan untuk ajang
seleksi anggota baru untuk masuk ke dalam daftar pemain tim utama. Lapangan
terkahir berukuran 90 x 120 meter dan merupakan lapangan utama dari sekolah
Einherjar. Dengan fasilitas yang tersedia, tidak sedikit anak-anak muda yang
mempunyai mimpi menjadi seorang pemain sepak bola berbondong-bondong untuk
mendaftar di sekolah Einherjar. Salah satu dari anak-anak muda tersebut adalah Brian.
Brian adalah seorang pemuda yang mempunyai tinggi 169 cm, kulit berwarna
kuning langsat, memiliki rambut yang tidak terlalu tebal dan sedikit acak-acakan,
serta bentuk tubuh yang dapat disebut proporsional. Nama Brian memiliki arti orang yang mempunyai mimpi
yang tinggi, kuat, dan mulia. Brian berasal dari
kota Midgard yang letaknya tidak jauh dari Asgard. Kota Midgard adalah kota
yang menyerupai pedesaan dan jumlah penduduknya tidak begitu banyak.
Pada saat pendaftaran masuk, Brian terkejut ketika melihat ribuan anak
muda yang berbaris mengambil formulir
pendaftaran layaknya pasukan semut yang akan mengambil makanan dan membawa
makanan tersebut kepada sang ratu. Di sekolah Einherjar,
terdapat pembagian kategori pemain untuk sebuah tim. Untuk pemain yang kurang
bertalenta, dalam kartu pelajarnya akan diberikan bintang berjumlah satu hingga
dua bintang dan sangat
susah untuk masuk ke dalam tim utama sekolah Einherjar. Untuk pemain dengan
kategori pemain rata-rata, akan diberikan bintang berjumlah tiga hingga empat
bintang dan dapat dipertimbangkan posisinya dalam tim utama sekolah. Kategori
yang paling tinggi dari semua kategori adalah super rare atau sangat langka. Pemain dengan kategori tersebut akan
diberikan bintang berjumlah lima hingga enam bintang dan sangat mudah untuk
masuk ke dalam pasukan tim utama. Talenta yang dimiliki oleh pemain dengan
kategori sangat langka sudah tidak dapat dipertanyakan lagi.
Pada saat tes masuk sekolah Einherjar, Brian mendapatkan kategori pemain
rata-rata yaitu berbintang tiga hingga empat dimana posisinya untuk berada
didalam tim utama masih bisa dipertimbangkan dan masih harus mengikuti proses
seleksi pemain.
Dalam proses pembelajarannya, Brian diharuskan memilih seseorang yang
dijadikannya sebagai mentor atau panutan. Setelah melihat daftar nama dan
status pemain didalam sebuah kotak berukuran kecil berwarna hitam metalik yang
bernama “data box”, Brian memilih seorang penyerang depan untuk dijadikan
sebagai mentornya. Pemain tersebut bernama Hiiro. Hiiro merupakan salah satu
pemain dari pasukan tim utama yang mendapatkan kategori bintang lima atau
sangat langka dan berposisi sebagai penyerang depan. Hiiro mempunyai perawakan
tubuh yang hampir setara tingginya dengan Brian, mempunyai badan yang
proporsional, dan keunikan dari Hiiro adalah Dia selalu mengenakan jas dan juga
topi layaknya seorang pelaut. Penampilannya yang selalu terlihat rapih tidak
jarang membuat beberapa perempuan di sekolah Einherjar jatuh cinta kepadanya. Alasan
Brian memilih Hiiro sebagai mentor adalah kekuatan tendangan dan akurasi dari
Hiiro merupakan yang tertinggi dibandingkan dengan penyerang lainnya. Hiiro terkenal
ditakuti oleh tim-tim lawannya dan dijuluki sebagai “God of Einherjar” atau Dewa dari Einherjar. Mengapa tidak ? ketika
Hiiro akan menendang bola, Dia membawa seluruh semangat dari siswa-siswa yang
ada didalam sekolah Einherjar. Tendangan tersebut dinamakan “Einherjar Spirit” atau Kekuatan
Einherjar.
Tiga bulan telah berlalu. Seleksi untuk masik tim lapisan kedua dimulai,
dan hanya pemain berkategori bintang empat saja yang dapat berpartisipasi. Tim
lapisan kedua tentunya merupakan tim terkuat kedua setelah tim lapisan pertama.
“Aku pasti bisa !” gumam Brian dalam hati. Dengan semangat yang membara, Brian
mengikuti proses seleksi tersebut. Dengan mengenakan baju berwarna biru
kehitaman dengan sedikit bergaris dibagian kanan bahunya dan celana pendek
diatas lutut yang warnanya menyerupai baju yang dikenakan, Brian siap untuk
mengikuti proses seleksi. Brian membungkuk sedikit untuk mengencangkan tali
sepatunya yang diikat simpul sembari berdoa agar Dia berhasil pada seleksi kali
ini. Proses seleksi untuk tim lapisan kedua yang diselenggarakan di lapangan
berukuran 60x90 meter ini dilaksanakan dua kali mengingat jumlah anggota baru
sekitar 20 pemain yang berkategori empat bintang. Seleksi pertama akan dipilih
10 pemain dan seleksi kedua akan dipilih empat pemain yang akan mengisi tim
lapisan kedua. Yang dibutuhkan untuk memenuhi tim lapisan kedua adalah satu penyerang
depan, dua pemain bertahan, dan satu “passer”
atau pengumpan bola. Seketika Brian menelan ludah dan terdiam tak berkutik
ketika mendengar bahwa hanya satu saja penyerang depan yang akan dipilih. Brian harus bersaing dengan laki-laki yang bernama Kirin. Pemain berambut
pirang dengan tinggi 172 cm dan baju berkerah ini terlihat begitu percaya diri.
Seleksi pertama yang berfokus pada tendangan, akurasi, refleks, dan dribble telah berlangsung selama 45
menit. Panitia seleksi mengumumkan nama-nama yang lolos dalam seleksi pertama
tim lapisan kedua. Seleksi kedua tidak menguji kemampuan individu pemain,
melainkan menguji kerjasama tim pemain. Tim dibagi menjadi dua dengan
masing-masing pemain berjumlah lima orang. Brian dan Kirin berada di tim yang
berbeda. “Hei kau yang berbadan pendek ! Apa kau yakin bisa menang melawanku ?”
ujar Kirin sembari tersenyum kecil dengan posisi muka yang sedikit mengada
keatas dan tatapan mata yang seolah-olah merendahkan Brian. Brian terdiam
sejenak mendengar perkataan Kirin. Brian membalikkan badannya, menatap Kirin
sambil tersenyum dan berkata “Kita lihat saja hasilnya.” Tanpa basa-basi Brian
membalikkan badanya dan melangkah menuju barisan depan timnya.
Di timnya, Brian bertemu dengan seorang perempuan yang memiliki tinggi
badan sekitar 150 cm, berkulit kuning langsat, rambutnya diikat kuncir kuda,
berbadan langsing, dan memiliki tahi lalat ditepi bibirnya. Perempuan tersebut
memperkenalkan dirinya kepada Brian. Namanya adalah Joan.Di dalam tim, Joan
berposisi sebagai pengumpan bola kepada penyerang depan. Jadi, posisi Joan
adalah posisi yang membantu Brian mencetak gol. Joan mempunyai sepupu yang satu
tim dengannya dan Brian. Sepupu Joan adalah seorang laki-laki yang bernama Jay
yang memiliki tinggi 170 cm, kulitnya kuning langsat, badannya sedikit bongsor,
namun dengan mengenakan baju yang sedikit ketat, gumpalan otot Jay yang sedari
tadi bersembunyi dibalik kain tipis layaknya sebuah roti kasur terpampang
jelas. Brian sedikit takut melihat Jay, bukan karena badannya yang lebih tinggi
dari Brian, melainkan tatapan Jay kepada Brian yang seolah-olah ingin mengenal
lebih “dalam” lagi dengan Brian.
Seleksi kedua yang berlangsung selama 45 menit segera dimulai. Semua
pemain bersiap-siap di posisinya masing-masing. Tim Brian yang mendapatkan
kesempatan untuk mengambil bola terlebih dahulu.“Priiiiiittttttt!” bunyi peluit tanda permainan dimulai. Brian
mengumpan bola kepada Joan, Joan mencari Jay yang berada di posisi belakang dan
mengumpan bola kepadanya. Jay dengan santai menerima bola yang diberikan Joan
sembari menunggu Brian yang terus berlari menuju gawang lawan. “Sekarang !” teriak Joan. Seketika Jay
berancang-ancang dengan mengangkat kaki kanannya ke belakang dengan posisi
tubuh yang sedikit membungkuk dan menendang bola dengan kuat. Brian melihat
bola hasil umpan dari Jay. “Umpan yang sangat indah” gumam Brian. Mengapa tidak
? bola tersebut langsung menuju kearah kaki Brian dan dengan mudah Brian
menerima bola hasil umpan Jay. Brian yang sudah berada didepan garis putih
setelah lingkaran akhirnya melepaskan tendangan keras kearah sudut kanan-atas
gawang lawan. Penjaga gawang lawan melompat dengan sekuat tenaga tetapi tidak
dapat meraih bola tendangan Brian. “Goal untuk tim Brian!” ujar salah satu
panitia. Brian sangat senang karena bisa mencetak gol cepat untuk timnya. Brian
mengangkat jari jempol dan menunjukkannya kepada Jay. Jay yang melihat Brian
langsung tertawa kecil dan mengatakan “kita pasti bisa” kepada Brian. Brian
mengangguk kecil sembari berlari menuju posisi awalnya. Sebelum sampai pada
posisi awalnya, Brian berpapasan dengan Kirin. “Hanya kebetulan pemula” bisik
Kirin. Brian seolah tidak mendengarkan dan tetap berlari ke posisi awalnya.
“Priiittt!” bunyi peluit tanda
permainan dilanjutkan. Bola kali ini milik tim Kirin. Setelah peluit berbunyi,
bola lalu diumpan kepada Kirin dan “wwuuuuuuufffff.” Dengan sekali kebasan,
Kirin melepaskan sesuatu yang berada di punggunggnya. Brian terpaku dengan apa
yang dilihatnya. Ya, benar. Sebuah sayap berwarna biru gelap sepanjang dua
meter terbentang dihadapan Brian. “Electric
Wave” bisik Kirin. “Jediiiiaaarrrr!” bunyi tendangan keras yang dilesatkan
oleh Kirin kearah gawang tim Brian. “G-Goal untuk tim Kirin” kata panitia.
Merasa tidak percaya, Brian melihat kebelakang. Benar saja, bola sudah berada
didalam gawang tim Brian. Brian melihat kaki penjaga gawang timnya yang
bergetar seakan-akan melihat suatu penampakan yang seketika muncul
dihadapannya. Brian, Joan, dan Jay masih terpaku dengan apa yang terjadi.
Bagaimana tidak ? ketika Kirin berbisik “Electric
Wave”, sebuah gelombang listrik yang kuat mengelilingi bola yang berada di
kaki Kirin. Setelah itu, Brian dan teman-temannya tidak tahu apa yang terjadi
dengan bola tersebut.
“Priiittt!” tanda pertandingan
dilanjutkan. Brian dan Jay ingin mengulangi hal yang sama dengan apa yang
mereka lakukan pada gol pertama. Bola sudah berada di kaki Brian. Tanpa
ancang-ancang Brian melesatkan bola ke sudut kiri-atas gawang lawan. “Wuufff”,
bunyi yang tidak asing bagi Brian. “Ada apa ini ?” kata Brian dalam hati.
Penjaga gawang dari tim Kirin juga mengepakkan sayap yang sama warnanya dengan
Kirin. “Hahahahaha, sudah ku bilang. Apa kau bisa menang melawanku ?” Teriak
Kirin dengan tampang sombong.
Bola dari tangan penjaga gawang tim Kirin dilempar kedepan tepat kearah
Kirin. Seketika seluruh pemain tim Brian termasuk Brian berbaris didepan gawang
tim Brian. “Hoooh, jadi kalian ingin menghalangi tendanganku ?” ujar Kirin.
“Kita lihat saja” jawab Brian. “Electric
Wave” bisik Kirin. “Jediaarrrr!” bunyi yang muncul lagi karena tendangan
Kirin. “HIIAAAHHHH” teriak Brian yang menutup matanya karena membayangkan
betapa sakitnya apabila terkena bola tendangan Kirin. “Wuufffff” lagi-lagi bunyi
yang tak asing bagi Brian. “Loh ? kenapa tidak ada rasa sakit ? kemana bolanya
?” gumam Brian dan tetap menutup matanya. Brian membuka matanya perlahan dan
menarik napas panjang. Brian tersentak dengan apa yang dilihatnya. Bukanlah
Kirin yang membuatnya kaget, melainkan Joan dan Jay yang kali ini menunjukkan
sayapnya kepada Brian. Ya, sayap indah berwarna putih terbentang didepan Brian.
“Kenapa kalian bisa-“ belum selesai berbicara, Jay memotong “Sekarang giliran
kita. Bukan saatnya untuk melamun.” “Tapi, bagaimana kalian bisa mengepakkan
sayap kalian ? sedangkan Aku tidak bisa ?” ujar Brian. “Kata siapa ? semua
orang bisa. Asalkan orang tersebut memiliki tekad yang kuat dan percaya dengan
tekadnya tersebut.” Kata Joan. “Ayo Brian, bawa kami menuju kemenangan. Bawalah
kami dengan tekadmu.” Ujar Jay. Brian menundukkan kepalanya dan mulai
memikirkan tekadnya. “Benar, aku ingin menang. Aku ingin menjadi seperti Hiiro.
Bahkan melebihi Dia. Itulah tekadku. Menjadi yang terbaik seperti Hiiro!” gumam
Brian.
“Waktu tersisa 1 menit lagi!” teriak panitia yang berada di tepi
lapangan. “Ayo kita lakukan” bisik Brian. Jay yang menguasai bola mengepakkan
sayapnya dan mulai menggiring bola kedepan dengan cepat. Brian dan Joan berlari
kearah berlawanan. Jay menyerang dari sisi kiri menunggu Brian dan Joan yang
berlari di sisi kanan untuk mencapai depan gawang lawan. “Sekarang !” teriak
Joan. Jay menendang bola kearah Brian dan melambung sangat tinggi. “Apa ?
Bagaiamana bisa aku menendang bola setinggi itu ?” teriak Brian dengan
kebingungan. “Itulah gunanya diriku disini” kata Joan dengan nada yang lembut.
Kirin yang melihat bola bebas diatas menyuruh anggota timnya untuk mengambil
bola untuknya. Joan dengan sigap mengangkat Brian dan membawa Brian ke bola
yang bebas tersebut. “Heeh?” Brian terkaget. “Tendanglah bola itu dengan semua
tekad yang kau punya, Brian” jawab Joan. Joan melepaskan Brian yang telah
berada didepan bola. “Benar. Aku memiliki tekad. Tekad itu adalah untuk menang
dan menjadi yang terbaik seperti Hiiro. Aku tidak akan kalah disini !” teriak
Brian dengan seluruh tenaga. “Wuuuuffff” cahaya bersinar terang dan sayap
berwarna putih emas terbentang jelas dihadapan semua pemain. “Heaven Judgement” bisik Brian. Sebuah
kekuatan yang berbentuk pedang besar berjumlah delapan buah mengitari bola yang
berada didepan Brian dan “Jediiarr!”. “Grav-“
penjaga gawang tim Brian yang belum sempat meneriakkan kekuatannya hanya
terpaku melihat bola yang sudah berada didalam gawang. Kirin yang melihat
tendangan Brian hanya terdiam karena Dia sendiri tidak dapat melihat tendangan
Brian.
“Goal! Tim Brian pemenangnya.” Kata panitia. Secara otomatis tim Brian
yang berjumlah lima orang terpilih untuk masuk kedalam tim lapis kedua. Setelah
pertandigan selesai, Brian menuju kearah Kirin dan berkata “Sudah kukatakan,
kita lihat saja hasilnya. Dan inilah hasilnya.” Kirin melihatnya dengan wajah
yang kesal dan menjawab “ini hanyalah keberuntungan pemula. Kita akan bertemu
lagi, Brian. Tapi tidak di sekolah ini.” “Akan ku tunggu itu. Kapanpun aku
siap.” Jawab Brian. Kirin lalu pergi meninggalkan Brian. Brian begitu senang
karena bisa masuk tim lapis kedua yang berarti cita-citanya untuk menjadi
seperti Hiiro sudah semakin dekat.














