Minggu, 25 Oktober 2015

Cerita Pendek (Fantasi)

Nama : Fachri Widi Partyadi
NIM : 1400410001
Brian, Sang Peraih Mimpi

Di sebuah kota di daerah Asgard, terdapat beberapa sekolah yang proses pengajarannya berfokus kepada ekstrakulikuler sepak bola. Asgard adalah sebuah kota yang melayang diatas langit dan biasanya disebut sebagai kota terbang. Salah satu sekolah yang terkenal adalah sekolah Einherjar. Sekolah Einherjar adalah sebuah sekolah berasrama yang terletak di pinggiran kota Asgard dan sangat terkenal dengan lulusannya yang sangat lihai dalam bermain dan mengolah bola. Sekolah Einherjar mempunyai sebuah tiga buah lapangan sepak bola dengan luas lapangan yang beragam. Ada lapangan yang berukuran 30 x 60 meter untuk tempat pelatihan sepak bola. Ada lapangan yang berukuran 60 x 90 meter dan digunakan untuk ajang seleksi anggota baru untuk masuk ke dalam daftar pemain tim utama. Lapangan terkahir berukuran 90 x 120 meter dan merupakan lapangan utama dari sekolah Einherjar. Dengan fasilitas yang tersedia, tidak sedikit anak-anak muda yang mempunyai mimpi menjadi seorang pemain sepak bola berbondong-bondong untuk mendaftar di sekolah Einherjar. Salah satu dari anak-anak muda tersebut adalah Brian.

Brian adalah seorang pemuda yang mempunyai tinggi 169 cm, kulit berwarna kuning langsat, memiliki rambut yang tidak terlalu tebal dan sedikit acak-acakan, serta bentuk tubuh yang dapat disebut proporsional. Nama Brian memiliki arti orang yang mempunyai mimpi yang tinggi, kuat, dan mulia. Brian berasal dari kota Midgard yang letaknya tidak jauh dari Asgard. Kota Midgard adalah kota yang menyerupai pedesaan dan jumlah penduduknya tidak begitu banyak.
  
Pada saat pendaftaran masuk, Brian terkejut ketika melihat ribuan anak muda yang berbaris mengambil formulir pendaftaran layaknya pasukan semut yang akan mengambil makanan dan membawa makanan tersebut kepada sang ratu. Di sekolah Einherjar, terdapat pembagian kategori pemain untuk sebuah tim. Untuk pemain yang kurang bertalenta, dalam kartu pelajarnya akan diberikan bintang berjumlah satu hingga dua bintang dan sangat susah untuk masuk ke dalam tim utama sekolah Einherjar. Untuk pemain dengan kategori pemain rata-rata, akan diberikan bintang berjumlah tiga hingga empat bintang dan dapat dipertimbangkan posisinya dalam tim utama sekolah. Kategori yang paling tinggi dari semua kategori adalah super rare atau sangat langka. Pemain dengan kategori tersebut akan diberikan bintang berjumlah lima hingga enam bintang dan sangat mudah untuk masuk ke dalam pasukan tim utama. Talenta yang dimiliki oleh pemain dengan kategori sangat langka sudah tidak dapat dipertanyakan lagi.

Pada saat tes masuk sekolah Einherjar, Brian mendapatkan kategori pemain rata-rata yaitu berbintang tiga hingga empat dimana posisinya untuk berada didalam tim utama masih bisa dipertimbangkan dan masih harus mengikuti proses seleksi pemain.

Dalam proses pembelajarannya, Brian diharuskan memilih seseorang yang dijadikannya sebagai mentor atau panutan. Setelah melihat daftar nama dan status pemain didalam sebuah kotak berukuran kecil berwarna hitam metalik yang bernama “data box”, Brian memilih seorang penyerang depan untuk dijadikan sebagai mentornya. Pemain tersebut bernama Hiiro. Hiiro merupakan salah satu pemain dari pasukan tim utama yang mendapatkan kategori bintang lima atau sangat langka dan berposisi sebagai penyerang depan. Hiiro mempunyai perawakan tubuh yang hampir setara tingginya dengan Brian, mempunyai badan yang proporsional, dan keunikan dari Hiiro adalah Dia selalu mengenakan jas dan juga topi layaknya seorang pelaut. Penampilannya yang selalu terlihat rapih tidak jarang membuat beberapa perempuan di sekolah Einherjar jatuh cinta kepadanya. Alasan Brian memilih Hiiro sebagai mentor adalah kekuatan tendangan dan akurasi dari Hiiro merupakan yang tertinggi dibandingkan dengan penyerang lainnya. Hiiro terkenal ditakuti oleh tim-tim lawannya dan dijuluki sebagai “God of Einherjar” atau Dewa dari Einherjar. Mengapa tidak ? ketika Hiiro akan menendang bola, Dia membawa seluruh semangat dari siswa-siswa yang ada didalam sekolah Einherjar. Tendangan tersebut dinamakan “Einherjar Spirit” atau Kekuatan Einherjar.

Tiga bulan telah berlalu. Seleksi untuk masik tim lapisan kedua dimulai, dan hanya pemain berkategori bintang empat saja yang dapat berpartisipasi. Tim lapisan kedua tentunya merupakan tim terkuat kedua setelah tim lapisan pertama. “Aku pasti bisa !” gumam Brian dalam hati. Dengan semangat yang membara, Brian mengikuti proses seleksi tersebut. Dengan mengenakan baju berwarna biru kehitaman dengan sedikit bergaris dibagian kanan bahunya dan celana pendek diatas lutut yang warnanya menyerupai baju yang dikenakan, Brian siap untuk mengikuti proses seleksi. Brian membungkuk sedikit untuk mengencangkan tali sepatunya yang diikat simpul sembari berdoa agar Dia berhasil pada seleksi kali ini. Proses seleksi untuk tim lapisan kedua yang diselenggarakan di lapangan berukuran 60x90 meter ini dilaksanakan dua kali mengingat jumlah anggota baru sekitar 20 pemain yang berkategori empat bintang. Seleksi pertama akan dipilih 10 pemain dan seleksi kedua akan dipilih empat pemain yang akan mengisi tim lapisan kedua. Yang dibutuhkan untuk memenuhi tim lapisan kedua adalah satu penyerang depan, dua pemain bertahan, dan satu “passer” atau pengumpan bola. Seketika Brian menelan ludah dan terdiam tak berkutik ketika mendengar bahwa hanya satu saja penyerang depan yang akan dipilih. Brian harus bersaing dengan laki-laki yang bernama Kirin. Pemain berambut pirang dengan tinggi 172 cm dan baju berkerah ini terlihat begitu percaya diri.

Seleksi pertama yang berfokus pada tendangan, akurasi, refleks, dan dribble telah berlangsung selama 45 menit. Panitia seleksi mengumumkan nama-nama yang lolos dalam seleksi pertama tim lapisan kedua. Seleksi kedua tidak menguji kemampuan individu pemain, melainkan menguji kerjasama tim pemain. Tim dibagi menjadi dua dengan masing-masing pemain berjumlah lima orang. Brian dan Kirin berada di tim yang berbeda. “Hei kau yang berbadan pendek ! Apa kau yakin bisa menang melawanku ?” ujar Kirin sembari tersenyum kecil dengan posisi muka yang sedikit mengada keatas dan tatapan mata yang seolah-olah merendahkan Brian. Brian terdiam sejenak mendengar perkataan Kirin. Brian membalikkan badannya, menatap Kirin sambil tersenyum dan berkata “Kita lihat saja hasilnya.” Tanpa basa-basi Brian membalikkan badanya dan melangkah menuju barisan depan timnya.

Di timnya, Brian bertemu dengan seorang perempuan yang memiliki tinggi badan sekitar 150 cm, berkulit kuning langsat, rambutnya diikat kuncir kuda, berbadan langsing, dan memiliki tahi lalat ditepi bibirnya. Perempuan tersebut memperkenalkan dirinya kepada Brian. Namanya adalah Joan.Di dalam tim, Joan berposisi sebagai pengumpan bola kepada penyerang depan. Jadi, posisi Joan adalah posisi yang membantu Brian mencetak gol. Joan mempunyai sepupu yang satu tim dengannya dan Brian. Sepupu Joan adalah seorang laki-laki yang bernama Jay yang memiliki tinggi 170 cm, kulitnya kuning langsat, badannya sedikit bongsor, namun dengan mengenakan baju yang sedikit ketat, gumpalan otot Jay yang sedari tadi bersembunyi dibalik kain tipis layaknya sebuah roti kasur terpampang jelas. Brian sedikit takut melihat Jay, bukan karena badannya yang lebih tinggi dari Brian, melainkan tatapan Jay kepada Brian yang seolah-olah ingin mengenal lebih “dalam” lagi dengan Brian.

Seleksi kedua yang berlangsung selama 45 menit segera dimulai. Semua pemain bersiap-siap di posisinya masing-masing. Tim Brian yang mendapatkan kesempatan untuk mengambil bola terlebih dahulu.“Priiiiiittttttt!” bunyi peluit tanda permainan dimulai. Brian mengumpan bola kepada Joan, Joan mencari Jay yang berada di posisi belakang dan mengumpan bola kepadanya. Jay dengan santai menerima bola yang diberikan Joan sembari menunggu Brian yang terus berlari menuju gawang lawan.  “Sekarang !” teriak Joan. Seketika Jay berancang-ancang dengan mengangkat kaki kanannya ke belakang dengan posisi tubuh yang sedikit membungkuk dan menendang bola dengan kuat. Brian melihat bola hasil umpan dari Jay. “Umpan yang sangat indah” gumam Brian. Mengapa tidak ? bola tersebut langsung menuju kearah kaki Brian dan dengan mudah Brian menerima bola hasil umpan Jay. Brian yang sudah berada didepan garis putih setelah lingkaran akhirnya melepaskan tendangan keras kearah sudut kanan-atas gawang lawan. Penjaga gawang lawan melompat dengan sekuat tenaga tetapi tidak dapat meraih bola tendangan Brian. “Goal untuk tim Brian!” ujar salah satu panitia. Brian sangat senang karena bisa mencetak gol cepat untuk timnya. Brian mengangkat jari jempol dan menunjukkannya kepada Jay. Jay yang melihat Brian langsung tertawa kecil dan mengatakan “kita pasti bisa” kepada Brian. Brian mengangguk kecil sembari berlari menuju posisi awalnya. Sebelum sampai pada posisi awalnya, Brian berpapasan dengan Kirin. “Hanya kebetulan pemula” bisik Kirin. Brian seolah tidak mendengarkan dan tetap berlari ke posisi awalnya.

Priiittt!” bunyi peluit tanda permainan dilanjutkan. Bola kali ini milik tim Kirin. Setelah peluit berbunyi, bola lalu diumpan kepada Kirin dan “wwuuuuuuufffff.” Dengan sekali kebasan, Kirin melepaskan sesuatu yang berada di punggunggnya. Brian terpaku dengan apa yang dilihatnya. Ya, benar. Sebuah sayap berwarna biru gelap sepanjang dua meter terbentang dihadapan Brian. “Electric Wave” bisik Kirin. “Jediiiiaaarrrr!” bunyi tendangan keras yang dilesatkan oleh Kirin kearah gawang tim Brian. “G-Goal untuk tim Kirin” kata panitia. Merasa tidak percaya, Brian melihat kebelakang. Benar saja, bola sudah berada didalam gawang tim Brian. Brian melihat kaki penjaga gawang timnya yang bergetar seakan-akan melihat suatu penampakan yang seketika muncul dihadapannya. Brian, Joan, dan Jay masih terpaku dengan apa yang terjadi. Bagaimana tidak ? ketika Kirin berbisik “Electric Wave”, sebuah gelombang listrik yang kuat mengelilingi bola yang berada di kaki Kirin. Setelah itu, Brian dan teman-temannya tidak tahu apa yang terjadi dengan bola tersebut.

Priiittt!” tanda pertandingan dilanjutkan. Brian dan Jay ingin mengulangi hal yang sama dengan apa yang mereka lakukan pada gol pertama. Bola sudah berada di kaki Brian. Tanpa ancang-ancang Brian melesatkan bola ke sudut kiri-atas gawang lawan. “Wuufff”, bunyi yang tidak asing bagi Brian. “Ada apa ini ?” kata Brian dalam hati. Penjaga gawang dari tim Kirin juga mengepakkan sayap yang sama warnanya dengan Kirin. “Hahahahaha, sudah ku bilang. Apa kau bisa menang melawanku ?” Teriak Kirin dengan tampang sombong.

Bola dari tangan penjaga gawang tim Kirin dilempar kedepan tepat kearah Kirin. Seketika seluruh pemain tim Brian termasuk Brian berbaris didepan gawang tim Brian. “Hoooh, jadi kalian ingin menghalangi tendanganku ?” ujar Kirin. “Kita lihat saja” jawab Brian. “Electric Wave” bisik Kirin. “Jediaarrrr!” bunyi yang muncul lagi karena tendangan Kirin. “HIIAAAHHHH” teriak Brian yang menutup matanya karena membayangkan betapa sakitnya apabila terkena bola tendangan Kirin. “Wuufffff” lagi-lagi bunyi yang tak asing bagi Brian. “Loh ? kenapa tidak ada rasa sakit ? kemana bolanya ?” gumam Brian dan tetap menutup matanya. Brian membuka matanya perlahan dan menarik napas panjang. Brian tersentak dengan apa yang dilihatnya. Bukanlah Kirin yang membuatnya kaget, melainkan Joan dan Jay yang kali ini menunjukkan sayapnya kepada Brian. Ya, sayap indah berwarna putih terbentang didepan Brian. “Kenapa kalian bisa-“ belum selesai berbicara, Jay memotong “Sekarang giliran kita. Bukan saatnya untuk melamun.” “Tapi, bagaimana kalian bisa mengepakkan sayap kalian ? sedangkan Aku tidak bisa ?” ujar Brian. “Kata siapa ? semua orang bisa. Asalkan orang tersebut memiliki tekad yang kuat dan percaya dengan tekadnya tersebut.” Kata Joan. “Ayo Brian, bawa kami menuju kemenangan. Bawalah kami dengan tekadmu.” Ujar Jay. Brian menundukkan kepalanya dan mulai memikirkan tekadnya. “Benar, aku ingin menang. Aku ingin menjadi seperti Hiiro. Bahkan melebihi Dia. Itulah tekadku. Menjadi yang terbaik seperti Hiiro!” gumam Brian.

“Waktu tersisa 1 menit lagi!” teriak panitia yang berada di tepi lapangan. “Ayo kita lakukan” bisik Brian. Jay yang menguasai bola mengepakkan sayapnya dan mulai menggiring bola kedepan dengan cepat. Brian dan Joan berlari kearah berlawanan. Jay menyerang dari sisi kiri menunggu Brian dan Joan yang berlari di sisi kanan untuk mencapai depan gawang lawan. “Sekarang !” teriak Joan. Jay menendang bola kearah Brian dan melambung sangat tinggi. “Apa ? Bagaiamana bisa aku menendang bola setinggi itu ?” teriak Brian dengan kebingungan. “Itulah gunanya diriku disini” kata Joan dengan nada yang lembut. Kirin yang melihat bola bebas diatas menyuruh anggota timnya untuk mengambil bola untuknya. Joan dengan sigap mengangkat Brian dan membawa Brian ke bola yang bebas tersebut. “Heeh?” Brian terkaget. “Tendanglah bola itu dengan semua tekad yang kau punya, Brian” jawab Joan. Joan melepaskan Brian yang telah berada didepan bola. “Benar. Aku memiliki tekad. Tekad itu adalah untuk menang dan menjadi yang terbaik seperti Hiiro. Aku tidak akan kalah disini !” teriak Brian dengan seluruh tenaga. “Wuuuuffff” cahaya bersinar terang dan sayap berwarna putih emas terbentang jelas dihadapan semua pemain. “Heaven Judgement” bisik Brian. Sebuah kekuatan yang berbentuk pedang besar berjumlah delapan buah mengitari bola yang berada didepan Brian dan “Jediiarr!”. “Grav-“ penjaga gawang tim Brian yang belum sempat meneriakkan kekuatannya hanya terpaku melihat bola yang sudah berada didalam gawang. Kirin yang melihat tendangan Brian hanya terdiam karena Dia sendiri tidak dapat melihat tendangan Brian.


“Goal! Tim Brian pemenangnya.” Kata panitia. Secara otomatis tim Brian yang berjumlah lima orang terpilih untuk masuk kedalam tim lapis kedua. Setelah pertandigan selesai, Brian menuju kearah Kirin dan berkata “Sudah kukatakan, kita lihat saja hasilnya. Dan inilah hasilnya.” Kirin melihatnya dengan wajah yang kesal dan menjawab “ini hanyalah keberuntungan pemula. Kita akan bertemu lagi, Brian. Tapi tidak di sekolah ini.” “Akan ku tunggu itu. Kapanpun aku siap.” Jawab Brian. Kirin lalu pergi meninggalkan Brian. Brian begitu senang karena bisa masuk tim lapis kedua yang berarti cita-citanya untuk menjadi seperti Hiiro sudah semakin dekat.

Rabu, 14 Oktober 2015

Perjalanan Kacang Si Buruk Rupa dalam Menghadapi Masalah




































Karya Kelompok :

Fachri Widi Partyadi (1400410001)

Hizkia Dwiatmaja (1400410023)

Johanes Ricky Wijaya (1400410032)

Octavania (1400410026)

Tirza Christabel (1400410033)









Creative Writing (Deskriptif)

Nama : Fachri Widi Partyadi
NIM : 1400410001

Dosen Juga Mahasiswa

            Masih terduduk di tempat duduk berwarna hijau hitam yang sedari tadi memangkuku dan disinari sebuah cahaya yang menuju ke layar besar berukuran 2x2 meter dengan gelapnya sebuah ruangan yang sedang ku tempati. Saat aku melihat ke belakang tubuhku, terlihat samar-samar teman-temanku berjatuhan dalam alam bawah sadar mereka. “satu, dua, tiga, ....” hitungku terus berlanjut dalam benakku dan berakhir pada angka ke delapan. Jam tanganku menunjukkan pukul 15.00 WIB waktu itu. Kembali ku menghela nafas untuk melanjutkan sebuah film yang sedari tadi disorot oleh sebuah alat putih berbentuk kubus ke arah layar besar berukuran 2x2 meter. Didalam film tersebut, terlihat sesosok laki-laki yang mengenakan kacamata dengan frame berwarna emas, berbaju kemeja putih, dan ditemani dengan komputer versi dulu yang masih menggunakan monitor tabung yang memanjang ke belakang disampingnya. “Film ini sangat membosankan” benakku.

            Seakan mengangkat barbel seberat 2 kg, kelopak mataku tidak kuat untuk mempertahakan kedudukannya dan perlahan-lahan menutup dengan sendirinya. Cahaya yang masuk kedalam mataku semakin sedikit, namun terasa lebih nyaman. Sesaat sebelum tertutup seluruhnya, jam tanganku pun berbunyi dan segera melepaskan barbel seberat 2 kg tersebut dari kelopak mataku. Aku melihat jam tanganku yang menunjukkan pukul 15.15 WIB. “astaga, baru jam segini ?!” gumamku.

Disela-sela ketidaksadaranku, terlihat sesosok laki-laki dengan tinggi yang hampir sama denganku dan menggunakan kemeja yang ditemani oleh jeans berwarna biru dan duduuk disebelah kanan-depanku. Warna pakaian yang digunakannya tidak jelas karena ruangan yang begitu gelap sehingga warna tersebut hanya persepsiku saja. Laki-laki tersebut terlihat sangat serius menyaksikan film yang sedang diputar di sebuah layar besar berukuran 2x2 meter yang berada didepannya. Cukup lama aku memerhatikannya, aku pun terkaget. Laki-laki yang memerhatikan layar besar didepannya tersebut, ternyata Dia tidak sedang serius memerhatikan layar tersebut, melainkan sedang menahan belaian dinginnya AC yang memaksanya untuk berkunjung ke alam bawah sadarnya yang kejadiannya sama persis seperti diriku. Namun, tidak terlihat barbel yang kurasakan tadi menggantung di kelopak matanya. Sedikit tertawa nyengir karena apa yang sedang ku lihat, aku pun melihat sekelilingku sekali lagi. Nampaknya tidak ada yang menyadari usaha laki-laki tersebut untuk menahan kantuknya. Saat aku melihat dengan teliti lagi, ternyata Dia adalah salah satu dosen yang mengajarku. Yang masih bisa terhanyut didalam dinginnya belaian AC apabila tidak sedang berbicara didepan. Setelah kejadian tersebut, aku mengambil kesimpulan bahwa “dosen juga mahasiswa.” 


Kembali ku melihat jam tangaku yang menunjukkan pukul 15.40 WIB dan memutuskan untuk melanjutkan menonton film yang sedari tadi ku campakkan.