Rabu, 14 Oktober 2015

Creative Writing (Deskriptif)

Nama : Fachri Widi Partyadi
NIM : 1400410001

Dosen Juga Mahasiswa

            Masih terduduk di tempat duduk berwarna hijau hitam yang sedari tadi memangkuku dan disinari sebuah cahaya yang menuju ke layar besar berukuran 2x2 meter dengan gelapnya sebuah ruangan yang sedang ku tempati. Saat aku melihat ke belakang tubuhku, terlihat samar-samar teman-temanku berjatuhan dalam alam bawah sadar mereka. “satu, dua, tiga, ....” hitungku terus berlanjut dalam benakku dan berakhir pada angka ke delapan. Jam tanganku menunjukkan pukul 15.00 WIB waktu itu. Kembali ku menghela nafas untuk melanjutkan sebuah film yang sedari tadi disorot oleh sebuah alat putih berbentuk kubus ke arah layar besar berukuran 2x2 meter. Didalam film tersebut, terlihat sesosok laki-laki yang mengenakan kacamata dengan frame berwarna emas, berbaju kemeja putih, dan ditemani dengan komputer versi dulu yang masih menggunakan monitor tabung yang memanjang ke belakang disampingnya. “Film ini sangat membosankan” benakku.

            Seakan mengangkat barbel seberat 2 kg, kelopak mataku tidak kuat untuk mempertahakan kedudukannya dan perlahan-lahan menutup dengan sendirinya. Cahaya yang masuk kedalam mataku semakin sedikit, namun terasa lebih nyaman. Sesaat sebelum tertutup seluruhnya, jam tanganku pun berbunyi dan segera melepaskan barbel seberat 2 kg tersebut dari kelopak mataku. Aku melihat jam tanganku yang menunjukkan pukul 15.15 WIB. “astaga, baru jam segini ?!” gumamku.

Disela-sela ketidaksadaranku, terlihat sesosok laki-laki dengan tinggi yang hampir sama denganku dan menggunakan kemeja yang ditemani oleh jeans berwarna biru dan duduuk disebelah kanan-depanku. Warna pakaian yang digunakannya tidak jelas karena ruangan yang begitu gelap sehingga warna tersebut hanya persepsiku saja. Laki-laki tersebut terlihat sangat serius menyaksikan film yang sedang diputar di sebuah layar besar berukuran 2x2 meter yang berada didepannya. Cukup lama aku memerhatikannya, aku pun terkaget. Laki-laki yang memerhatikan layar besar didepannya tersebut, ternyata Dia tidak sedang serius memerhatikan layar tersebut, melainkan sedang menahan belaian dinginnya AC yang memaksanya untuk berkunjung ke alam bawah sadarnya yang kejadiannya sama persis seperti diriku. Namun, tidak terlihat barbel yang kurasakan tadi menggantung di kelopak matanya. Sedikit tertawa nyengir karena apa yang sedang ku lihat, aku pun melihat sekelilingku sekali lagi. Nampaknya tidak ada yang menyadari usaha laki-laki tersebut untuk menahan kantuknya. Saat aku melihat dengan teliti lagi, ternyata Dia adalah salah satu dosen yang mengajarku. Yang masih bisa terhanyut didalam dinginnya belaian AC apabila tidak sedang berbicara didepan. Setelah kejadian tersebut, aku mengambil kesimpulan bahwa “dosen juga mahasiswa.” 


Kembali ku melihat jam tangaku yang menunjukkan pukul 15.40 WIB dan memutuskan untuk melanjutkan menonton film yang sedari tadi ku campakkan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar