Nama : Fachri Widi Partyadi
NIM : 1400410001
Dosen Juga Mahasiswa
Masih terduduk di tempat duduk
berwarna hijau hitam yang sedari tadi memangkuku dan disinari sebuah cahaya
yang menuju ke layar besar berukuran 2x2 meter dengan gelapnya sebuah ruangan
yang sedang ku tempati. Saat aku melihat ke belakang tubuhku, terlihat
samar-samar teman-temanku berjatuhan dalam alam bawah sadar mereka. “satu, dua,
tiga, ....” hitungku terus berlanjut dalam benakku dan berakhir pada angka ke
delapan. Jam tanganku menunjukkan pukul 15.00 WIB waktu itu. Kembali ku
menghela nafas untuk melanjutkan sebuah film yang sedari tadi disorot oleh
sebuah alat putih berbentuk kubus ke arah layar besar berukuran 2x2 meter.
Didalam film tersebut, terlihat sesosok laki-laki yang mengenakan kacamata
dengan frame berwarna emas, berbaju kemeja putih, dan ditemani dengan komputer
versi dulu yang masih menggunakan monitor tabung yang memanjang ke belakang
disampingnya. “Film ini sangat membosankan” benakku.
Seakan mengangkat barbel seberat 2
kg, kelopak mataku tidak kuat untuk mempertahakan kedudukannya dan
perlahan-lahan menutup dengan sendirinya. Cahaya yang masuk kedalam mataku
semakin sedikit, namun terasa lebih nyaman. Sesaat sebelum tertutup seluruhnya,
jam tanganku pun berbunyi dan segera melepaskan barbel seberat 2 kg tersebut
dari kelopak mataku. Aku melihat jam tanganku yang menunjukkan pukul 15.15 WIB.
“astaga, baru jam segini ?!” gumamku.
Disela-sela ketidaksadaranku, terlihat sesosok laki-laki dengan tinggi
yang hampir sama denganku dan menggunakan kemeja yang ditemani oleh jeans
berwarna biru dan duduuk disebelah kanan-depanku. Warna pakaian yang
digunakannya tidak jelas karena ruangan yang begitu gelap sehingga warna
tersebut hanya persepsiku saja. Laki-laki tersebut terlihat sangat serius
menyaksikan film yang sedang diputar di sebuah layar besar berukuran 2x2 meter
yang berada didepannya. Cukup lama aku memerhatikannya, aku pun terkaget.
Laki-laki yang memerhatikan layar besar didepannya tersebut, ternyata Dia tidak
sedang serius memerhatikan layar tersebut, melainkan sedang menahan belaian
dinginnya AC yang memaksanya untuk
berkunjung ke alam bawah sadarnya yang kejadiannya sama persis seperti diriku.
Namun, tidak terlihat barbel yang kurasakan tadi menggantung di kelopak
matanya. Sedikit tertawa nyengir
karena apa yang sedang ku lihat, aku pun melihat sekelilingku sekali lagi.
Nampaknya tidak ada yang menyadari usaha laki-laki tersebut untuk menahan
kantuknya. Saat aku melihat dengan teliti lagi, ternyata Dia adalah salah satu
dosen yang mengajarku. Yang masih bisa terhanyut didalam dinginnya belaian AC apabila tidak sedang berbicara didepan. Setelah kejadian tersebut, aku mengambil kesimpulan
bahwa “dosen juga mahasiswa.”
Kembali ku melihat jam tangaku yang menunjukkan pukul 15.40 WIB dan
memutuskan untuk melanjutkan menonton film yang sedari tadi ku campakkan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar