Minggu, 06 Desember 2015

Biografi Ibu

Nama : Fachri Widi Partyadi
NIM : 1400410001
Syukur dari Sang Perkasa
Partini atau yang disapa Tini adalah seorang perempuan perkasa kelahiran Budug, Ngawi, Jawa Timur  . Tini lahir dengan tubuh yang wal afiat pada 9 Pebruari 1967. Tini adalah anak ke-4 dari enam bersaudara. Walaupun tinggi badan Tini tidak seperti saudaranya yang lain. Namun, perempuan ini merupakan momok yang paling ditakuti di keluarganya. Bukan karena jahat atau karena nakal, tetapi Tini sengaja bersifat seperti itu agar saudaranya bermental siap kerja dan hormat kepada kedua orang tua. Lahir dari keluarga yang sederhana, kehidupan yang dijalaninya juga sederhana. Sama seperti anak-anak kebanyakan, Tini menimba ilmu di sekolah dan membantu beberapa pekerjaan ibunya.
            Tini memulai pendidikannya di Sekolah Dasar (SD) Negeri Budug pada Juni 1974. Mengenakan seragam putih merah tidak membuat pemikiran dan logika Tini sama seperti anak SD seharusnya. Tini mendapatkan nilai yang sangat baik pada tahun pertamanya dan telah menguasai beberapa pelajaran kelas 3 SD. Walaupun, saat itu Tini masih duduk di kelas satu SD. Alhasil, Tini diberi kesempatan oleh guru-guru SD Budug untuk melompat satu tingkat. Tini menerima tawaran tersebut. Langsung melompat ke kelas tiga SD, berarti menghemat satu tahun umur Tini. Tepat pada Juni 1979, Tini diajak oleh pakdenya untuk ikut dengan pakde ke Jayapura. Alasannya karena pakdenya ingin Tini melanjutkan pendidikan disana daripada di Budug.
            Tini lulus dari SD Budug pada tahun 1979, mengingat tawaran yang diterima oleh Tini sebelumnya, Tini lalu berkemas untuk pindah ke tempat yang sangat jauh dari tempat kelahirannya. Berpindah dari Ngawi, Jawa Timur menuju Jayapura, Papua bukanlah hal yang mudah. Bukan hanya mengenai jarak yang sangat jauh dari rumah dan kedua orang tuanya, tentu saja lingkungan social yang jauh berbeda dengan lingkungan social yang ada di Budug. Namun, itu tidak menciutkan nyali dari perempuan perkasa ini.
            Tini dan Pakde Harto menetapkan  jadwal untuk pergi bersama-sama menuju Jayapura. Alangkah kagetnya Tini, yang berada di tangannya adalah sebuah tiket kapal laut. Sedangkan pakdenya menggunakan kapal terbang alias pesawat terbang. Dengan kata lain, perjalanan yang ditempuh kurang lebih satu bulan diatas kapal, Tini seorang diri tanpa tahu siapa yang berada disebelahnya dan tanpa ada yang menjaganya. Apabila Tini adalah anak yang cengeng dan suka mengeluh, pastinya dirinya akan menangis sepanjang perjalanan menuju Kota Jayapura.
            Sesampainya di Jayapura, Tini ditemani dengan pakdenya yang bernama Pakde Harto mencari Sekolah Menengah Pertama (SMP) yang cocok dengan Tini. Sekitar tiga sekolah telah dilihat terlebih dahulu oleh Pakde Harto. Namun, menurutnya, sekolah-sekolah tersebut tidak cocok untuk Tini. Sembari berjalan-jalan, Pakde Harto melihat sebuah sekolah yang lumayan besar ukurannya dan memiliki lapangan basket ditengahnya. Pakde Harto lalu mencari tahu sekolah apakah itu. “SMP Yapis, Jayapura,” ujar Pakde Harto. Pakde Harto melihat keadaan lingkungan social dari SMP tersebut. Pakde Harto lalu memutuskan untuk mendaftarkan Tini ke SMP Yapis, Jayapura. Tini resmi menjadi murid SMP Yapis Jayapura pada Juli 1979.
            Tiga tahun lamanya Tini menimba ilmu di SMP Yapis Jayapura, tiba saatnya Tini untuk lulus. Berbeda dengan saat di SD, Tini tidak melompat satu tingkat pun di SMP tersebut. Namun, Tini menjadi salah satu ketua kelas yang paling dihormati sekaligus ditakuti oleh teman-teman yang pernah sekelas dengannya.
Masih melanjutkan pendidikan di Jayapura, kali ini Tini berkeliling mencari tempat selanjutnya yang cocok untuk menimba ilmu. Berkeliling di salah satu daerah di Jayapura yang bernama Bhayangkara, Tini mendapatkan sebuah Sekolah Menengah Atas yang cocok untuk dirinya. SMEA Yapis Dock 5 Jayapura adalah nama sekolah yang menghentikan langkah kaki dari Tini. Tanpa berkata-kata Tini lalu mendaftarkan diri ke sekolah tersebut. Tini resmi menjadi murid SMEA Yapis Dock 5 Jayapura tahun 1982. Nampaknya, momok dari Tini yang sudah terbentuk dari SD hingga SMP masih melekat pada dirinya. Sempat menjabat sebagai anggota Organisasi Siswa Intra Sekolah (OSIS), Tini mengajarkan kepada teman-temannya bagaimana harusnya bersikap dan bertindak. Tentu saja, demi menjadikan teman-temannya sebagai orang yang terpandang, dirinya harus rela “sekali lagi” untuk dianggap yang paling keras.
Diluar kehidupan sekolahnya, kali ini Tini membantu ibu angkatnya yang bernama Kalsum Dima untuk membuat dan berjualan kue. Tini mempunyai alasan mengapa dirinya meninggalkan Pakde Harto dan tinggal bersama Kalsum Dima. Walaupun Tini dan Kalsum Dima tidak memiliki hubungan darah. Setiap pagi, sekitar pukul enam pagi Waktu Indonesia Timur (WIT), Tini selalu berkeliling gang dan juga kompleks perumahan untuk berjualan kue. Entah itu untung atau rugi, Tini tetap berjualan selama dirinya bersekolah dan menumpang tinggal di Kalsum Dima. Ketika waktu menunjukkan pukul setengah delapan pagi, Tini akan pergi kesekolah untuk menimba ilmu yang lebih tinggi lagi. Kegiatan tersebut yang terus-menerus dilakukan oleh Tini selama dirinya bersekolah di SMEA Yapis Dock 5 Jayapura.
Penghasilan yang diterima  oleh Tini juga tidak seberapa. Kadang untung, kadang rugi. Walau begitu, Tini tetap semangat dalam membantu Kalsum berjualan kue buatan Kalsum. Kegiatan menjual kue buatan Kalsum tidak mengganggu kegiatan dari OSIS dan juga tugas rumah yang diberikan untuknya. Tini pintar dalam mengatur waktu. Dia selalu membedakan waktu kapan dirinya harus fokus pada jualan, kapan dirinya harus fokus pada sekolah, dan kapan dirinya harus fokus pada OSIS.
Juni 1985, Tini lulus dari SMEA Yapis Dock 5 Jayapura. Itu tandanya Tini harus mencari pekerjaan selain berjualan kue. Setahun setelah lulus, Tini hanya berjualan kue karena dirinya belum mendapatkan pekerjaan yang sesuai dengan ijasah sekolahnya. Lalu pada tahun 1986, Tini mendapatkan sebuah pekerjaan yang lokasinnya lumayan jauh dari rumah singgahnya. Pekerjaan yang didapatkan yaitu sebagai karyawan Optical Cendrawasih. Kali ini lokasi dari tempat kerja barunya berada di Dock 2. Jaraknya lumayan jauh dari Dock 5 dan memakan waktu sekitar 20 menit dengan menggunakan kendaraan umum.
Setahun lamanya Tini bekerja di Optical Cendrawasih, Tini berganti pekerjaan menjadi karyawan Yulimsari. Tidak jauh dari tempat kerja pertamanya, pekerjaan ini diemban Tini selama dua tahun. Sebelum akhirnya Tini diterima menjadi Pegawai Negeri Sipil (PNS) di Kantor Kehutanan dan Pertanian, Jayapura. Menjadi seorang PNS bukan berarti melepaskan keliaran masa muda Tini. Sembari bekerja, Tini bergabung dengan sebuah organisasi Orari. Orari adalah sebuah organisasi yang memungkinkan beberapa orang untuk berkomunikasi melalui jaringan radio. Orang yang berbicara melalui jaringan radio disebut breaker. Dan itulah kerjaan sambilan Tini, menjadi seorang breaker.
Orari selalu melakukan siaran udara setiap hari. Oleh karena itu, Orari sangat terkenal kala itu. Orari dapat menjadi tempat curhatan para ABG-ABG yang baru patah hati, mendapatkan jodoh, dan sebagainya. Yang lebih terkenal lagi adalah breaker dari Orari tersebut. Seperti kata orang-orang terdahulu, kecantikan atau ketampanan seseorang dulu dilihat dari suaranya. Terutama yang hanya siaran melalui suara. Tentunya wajah dari sang “narator” tidak akan terlihat di siaran tersebut. Oleh karena itu, suaralah yang menjadi satu-satunya faktor yang data membentuk persepsi orang tentang breaker tersebut.
Suatu hari, Orari mengadakan sebuah kegiatan yang bernama Kopidelta. Tidak tahu kepanjangannya, Kopidelta ini mempertemukan para breaker dan juga pendengar setia Orari. Tini awalnya hanya sekadar ikut dalam perkumpulan tersebut. Siapa sangka, keisengan Tini ikut dalam perkumpulan tersebut membuka gerbang untuk bertemu dengan jodohnya hingga sekarang. Awalnya hanya berbincang biasa. Namun, Tini dan laki-laki tersebut sering membuat janji untuk bertemu diluar. Laki-laki tersebut bernama Gatut Aryo Widinagoro.
Gatut Aryo Widinagoro adalah seorang laki-laki yang bersekolah di salah satu SMK ternama di Jayapura. Gatut memiliki postur tubuh yang kurus, tinggi, dan tidak langsing. Gatut pada masa SMK adalah seorang pecandu rokok berat. Dia tidak bisa lepas dari yang namanya rokok selama masa SMK. Gatut juga memiliki rambut yang bisa dikatakan panjang dan tidak terurus. Rambutnya yang panjang hingga sebahu dan bentuknya yang bergelombang membuat benda-benda kecil bahkan hewan-hewan berukuran kecil dapat bersarang disitu. Walau perokok berat dan penampilan yang tidak terurus bukan berarti alasan Tini untuk menjauhi Gatut. Tidak hampir sama dengan perempuan kebanyakan sekarang yang hanya melihat dari penampilan.
Tini selalu menantang Gatut untuk tidak merokok selama berada didekatnya. Usahanya sedikit berhasil karena Gatut dapat menahan untuk tidak merokok selama dua jam. Setelah itu, dia akan ijin ke toilet dan merokok disana. Itulah yang menjadikan Gatut sebagai orang yang lucu dalam anggapan Tini. Dia tidak ingin ketahuan merokok didepan sang ratu. Oleh karena itu, dia meminta ijin untuk ke kamar mandi sebentar yang katanya ingin membuang air kecil.
Suatu hari, mereka berjalan-jalan ke sebuah bioskop. Bioskop tersebut bernama bioskop melati. Kelucuan yang telah diceritakan kini berulang kembali. Gatut yang sudah hampir dua jam tidak merokok merasakan bahwa tenggorokannya hambar. Dia membutuhkan pemanis yang berasal dari pangkal batang rokok. Akhirnya Gatut ijin ke kamar mandi untuk buang air kecil. Mereka berdua tiba di bioskop jam empat sore WIT. Masalahnya, film yang mereka pesan dimulai pada pukul delapan malam WIT. Menunggu empat jam tanpa merokok, bagi seorang perokok, itu membunuh mereka secara perlahan. Walau sebenarnya merokok sudah membunuh konsumennya secara perlahan.
Selama menunggu film tersebut diputar, Gatut bolak balik ke kamar mandi untuk buang air kecil. Terhitung sudah lima kali Dia bolak balik kamar mandi. Itu bukan buang air kecil lagi namanya. Tetapi buang-buang air. Melihat kegelisahan Gatut ketika ingin merokok itulah yang menarik perhatian Tini. Saat itu, sebenarnya Tini tidak mempersoalkan masalah merokok. Menurutnya, merokok itu merupakan hal yang wajar bagi anak muda yang ingin merasakan rokok. Tetapi jangan keseringan. Tini sering tertawa kecil sendiri ketika melihat ekspresi gelisah dari Gatut yang terus menerus menahan untuk merokok.
Menjalani hubungan pacaran selama sebulan, tepat pada pada tanggal 1 Pebruari 1991 laki-laki idamannya berulang tahun. Tini sengaja membuat kue ulang tahun untuk sang arjuna. Tini menunggu datangnya sang arjuna di kantornya. Namun, ekspektasi kadang tak sesuai realita. Sang arjuna yang ditunggu-tunggu kedatangannya ternyata tak kunjung datang. Sedih, kesal, marah, semuanya bercampur aduk menjadi satu. Pusing dengan situasi yang diterima, Tini lalu membuang kue ulang tahun Gatut. Kebetulan juga saat itu tidak ada satupun karyawan kantor yang masih berada di kantor. Tini pulang dengan kecewa. Amarah menyelimuti tubuh Tini dan menemani Tini selama perjalanan menuju jalan pulang.
Pada malam minggu, Tini menantang Gatut untuk datang meng-“apel”-in dirinya didepan rumahnya. Saat itu, Tini sedang berada di rumah Kalsum Dima. Gatut yang menerima tantangan dari Tini datang menemui Tini di rumah Kalsum Dima. Hasil pertama yang didapatkan tidak semulus yang dipikirkan. Gatut dimarahi habis-habisan oleh Kalsum Duma karena dirinya tidak datang saat Tini menunggunya di kantor untuk memberikan kue ulang tahun untuknya. Kedua kalinya Gatut mendatangi Tini di rumah Kalsum tepat pada malam minggu. Hasil yang sama diterima oleh Gatut. Dia dimarahi oleh Kalsum habis-habisan lagi bahkan sampai mengusir Gatut. Namun, Gatut tidak menyerah begitu saja. Minggu ketiga dirinya datang lagi menemui Tini. Kali ini Kalsum sudah benar-benar lelah memarahinya. Akhirnya, secara berat hati, Gatut diterima oleh Kalsum dan diperbolehkan menemui Tini. Setelah itu, Tini dan Gatut diperbolehkan untuk jalan bersama setiap malam minggu.
Alasan Kalsum mengusir Gatut saat percobaan pertama dan kedua karena Gatut saat itu mengenakan celana panjang yang bagian lututnya sobek, kaos oblong, rambut yang belum diurus, dan juga rokok yang ada di tangannya. Untuk Tini yang sudah sering melihat Gatut seperti itu, akan merasa bahwa penampilannya biasa saja. Bahkan mungkin sudah melihat penampilan yang lebih parah lagi seperti orang yang benar-benar tidak keurus. Tetapi untuk Kalsum, yang notabene orang yang rapih karena suka memasak akan menganggap penampilan Gatut benar-benar mengganggu. Siapa yang mau jadi pendampingnya jika dirinya masih berpenampilan seperti itu.
Selama Gatut dimarahi dan diusir, Tini selalu memperhatikannya dari dalam rumah. Sebenarnya Tini sedih ketika Gatut diusir dan dimarahi oleh Kalsum karena penampilannya. Tetapi, itulah perempuan. Ingin melihat setegar apakah laki-laki yang mengejarnya. Apakah ketika sekali dimarahi laki-laki tersebut akan kapok ? Ataukah menjadikannya sebuah pembelajaran dan sebuah tantangan baru untuk terus maju ke depan ? Untuk seorang Gatut, tentunya dia menerima pertanyaan kedua. Dimarahi dan diusir bukanlah sebuah alasan untuk mundur dari kisah cintanya bersama Tini. Dia malah mengetahui bahwa ada yang salah dari penampilannya. Oleh karena itu, pada minggu ketiga dan keempat, Gatut memperbaiki penampilannya dengan menggunakan celana panjang yang tidak sobek, kemeja rapih, rambut yang diikat rapih, dan tentunya tanpa sebatang rokok ditangannya. Gatut berdiri didepan rumah Kalsum sembari menunggu Tini untuk keluar. Kalsum lagi-lagi keluar duluan dan memasang muka sangar seakan-akan ingin menggigit Gatut. Namun, ketika melihat penampilan Gatut pada minggu ketiga dan keempat, tidak ada alasan bagi Kalsum untuk memarahi Gatut. Dia hanya sedikit mengeluh dan mengatakan kepada Gatut bahwa Tini ada didalam rumah.
“Masuk saja, Tini ada didalam.”
“Terima kasih. Saya akan menjemputnya didalam.”
            Sesampainya didalam rumah Kalsum, Gatut kaget ketika mengetahui bahwa Tini ternyata sedang berdiri dibalik dinding yang terdapat kacanya dan menghadap ke luar rumah.
“Jadi selama ini kamu disini, Tin ?”
“Iya, selama ini aku memperhatikanmu dari sini.”
“Perempuan yang didepan itu siapa ? Kakakmu ?”
“Bukan kok, itu ibu angkatku. Aku numpang tinggal disini.”
“Oh gitu. Seram benar tuh orang. Dua minggu yang lalu berturut-turut aku diusir dia. Kamu lihat kan ?”
“Iya, aku lihat kok.”
“Ketika sedang dimarahi, rasanya pengen dimakan olehnya. Menakutkan.”
“Hahaha… tapi usahamu untuk bertemu denganku berhasil, kan ?”
“Iya, walau dimarahi habis-habisan.”
            Disela-sela pembicaraan mereka berdua, terdengar suara yang sangat besar seperti auman singa.
“Mau pergi enggak nih ?! Kalau enggak mending pulang aja !”
            Gatut kaget mendengar suara yang tidak ingin didengarnya lagi.
“Iya bu, saya akan mengajaknya pergi.”
            Dari situlah Tini menyadari bahwa Gatut tidak hanya mengejar dirinya habis-habisan. Tetapi, Gatut benar-benar serius untuk mempertahankan kisah cinta mereka berdua. Tini kini benar-benar yakin dengan pilihan hatinya. Pemuda yang berpenampilan berantakan, perokok berat, dapat berubah begitu saja ketika memperjuangkannya.
Setiap malam minggu, Gatut pasti “apel” ke rumahnya Kalsum. Tentu saja untuk menjemput permaisurinya, Tini. Mereka berdua berjalan-jalan selalu menggunakan Vespa milik Gatut. Motor klasik tersebut memiliki bunyi dan juga ciri khasnya tersendiri. Terlebih lagi Vespa memiliki bentuk yang unik dan lucu sehingga menjadi motor yang paling tren kala itu. Mereka berdua selalu jalan-jalan ke tempat yang jauh dari rumah Kalsum. Alasannya karena Gatut tidak ingin mendengar suara yang sekeras auman singa lagi. Gatut selalu mengajaknya ke sebuah tempat yang bernama “Angkasa” di Kota Jayapura. Disinilah yang menjadi tempat favorit bagi Tini dan Gatut. Tempat tersebut sengaja diberi nama Angkasa oleh penduduk setempat karena dari tempat ini, kalian dapat melihat betapa luasnya lautan didaerah Jayapura dan seisi Kota Jayapura.
Angkasa adalah tempat tertinggi yang ada di Kota Jayapura. Angkasa menjadi pusat provider yang masuk ke Kota Jayapura khususnya Telkomsel. Dengan meletakkan tiang pemancar di salah satu bukit di Angkasa, jaringan dari provider tersebut dapat menjaungkau hampir seluruh Kota Jayapura. Telkomsel sekarang telah memasang tiga tiang pemancar disana. Oleh karena itu, ketika kalian mengunjungi Kota Jayapura atau mencarinya di internet, kalian dapat dengan mudah menemukan tiang-tiang pemancar tersebut.
Selama kurang lebih setahun berpacaran, Tini dan Gatut memutuskan untuk menikah. Mereka berdua menikah di sebuah gedung di Kota Jayapura. Mereka menggelar pernikahan yang sederhana dan menarik. Alasannya karena Gatut saat itu disuruh bernyanyi untuk Tini didepan para tamu undangan. Malu ? Tentu saja. Bukan karena malu dilihat saat mereka bermesraan, tetapi karena memang Gatut tidak pernah bernyanyi. Walau begitu, dengan suara yang pas-pasan, Gatut tetap bernyanyi untuk menghibur para tamu undangan dan tentunya sang ratu, Tini.
Mereka menikah pada tanggal 9 September 1992. Bulan madu dilakukan sebulan setelah proses pernikahan selesai. Tini dan Gatut berbulan madu berkeliling Pulau Jawa pada tanggal 9 Oktober 1992. Pada saat itu, Tini dan Gatut berbulan madu menggunakan uang mereka bersama. Mereka berdua berkeliling pulau Jawa dengan menggunakan kapal laut. Uang hasil terima gaji yang mereka sisihkan sedikit demi sedikit, kini membawa mereka berdua berkeliling pulau Jawa. Waktu yang dihabiskan di kapal tersebut adalah satu bulan penuh. Selama berada di kapal, keduanya sering berada didepan bagian kapal untuk merasakan hembusan angin yang sangat sejuk. Hembusan angina tersebut ditemani dengan bunyi pecahan ombak karena ujung kapal yang berbentuk mengerucut. Dengan angina yang sepoi-sepoi, keduanya kemudian memperagakan adegan di sebuah film legendaris “Titanic.” Namun, Tini dan Gatut tidak menyanyi. Keduanya tidak menyanyi karena disebelah mereka, terdapat sepasang kekasih yang melakukan adegan yang sama dengan mereka. Sepasang kekasih itulah yang menyanyikan lagu untuk mereka. Seakan tertutupi oleh angin, Gatut menambah keras suara lagu tersebut dengan suara pas-pasannya agar terdengar lebih romantis. Mendengar suara yang sedikit cempreng, Tini tertawa. Tini sudah tidak terlalu fokus dengan adegan Titanic tersebut. Tini hanya berfokus pada suara cempreng kekasihnya.
Waktu yang mereka habiskan untuk berkeliling Pulau Jawa hampir dua bulan. Keasyikan berkeliling, Tini baru mengetahui bahwa dirinya tengah hamil ketika perjalanan pulang dari Pulau Jawa kembali ke Kota Jayapura. Saat itu, yang didalam kandungan Tini adalah seorang anak perempuan. Janin perempuan tersebut sudah berumur dua bulan. Gatut sangat senang ketika mendengar kabar bahwa sedikit lagi dia akan mempunyai anak. Terlebih lagi yang diinginkan Gatut untuk anak pertamanya adalah seorang perempuan. Gatut yang telah terwujudkan mimpinya berjanji untuk menjaga janin tersebut agar tumbuh sehat dan menjaga kesehatan istrinya.
Di tengah masa kehamilan, pasti ada yang namanya “ngidam.” Sebuah istilah yang menjadi tren ketika seorang istri tengah hamil. Istilah tersebut menandakan bahwa hal yang diinginkannya adalah hal yang diucapkannya. Suatu hari, Tini pernah meminta Gatut untuk membelikan dirinya buah mangga. Gatut terdiam sejenak melihat Tini. Seakan mematung, Gatut menanyakan kepada Tini.
“Ma, kamu mau mangga ?”
“Iya, Pa. Kenapa ?”
“Kamu maunya sekarang, ya ?”
“Iya, Pa. Mama lagi pengen banget makan mangga, nih. Beliin ya.”
“Kalau sekadar dibeliin sih enggak masalah, Ma. Tapi sekarang kan sudah jam dua pagi. Tukang mangga mana yang masih buka jam segini ?”
“Coba carilah, Pa. Demi anakmu ini.”
            Tanpa mengeluh lagi, Gatut menurut semua permintaan dari sang istri. Dengan Vespa andalannya, Gatut mengelilingi Kota Jayapura tepat jam dua pagi WIT untuk mencari satu buah benda pusaka, “mangga.” Akhrinya Gatut menemukan penjual mangga yang hampir menutup tokonya karena ingin segera pulang. Gatut memohon untuk jangan menutup tokonya dulu dan membiarkan dirinya memilih mangga untuk istrinya. Pedagang mangga yang mendengar apa yang diucapkan oleh Gatut merasa iba.  Memang susah ketika istri sedang hamil. Semua keinginannya harus dipenuhi. Itu juga demi kesehatan dan bayi dan istri. Gatut kembali ke kamar rumah sakit dengan membawa kabar gembira yaitu sekilo buah mangga pesanan Tini. Semuanya ingin dilakukan oleh Gatut karena besok adalah hari persalinan. Kata dokter, besok adalah hari kelahiran bayi perempuan tersebut. Sehingga Gatut akan berusaha sekuat mungkin untuk membuat sang istri tetap rileks tanpa beban. Gatut ingin besok dihadapi istrinya dengan sekuat tenaga. Melahirkan adalah sebuah kewajiban yang sangat melelahkan bagi para perempuan. Bukan hanya melelahkan, tetapi juga menyakitkan. Itulah alasannya kenapa ibulah yang paling saya sayangi.
Proses kelahiran yang berlangsung cukup tegang. Bayi yang berada didalam kandungan Tini susah untuk keluar. Berbagai jenis pijit-memijit perut telah dilakukan. Namun, nihil hasilnya. Dokter menyarankan kepada Tini untuk melakukan operasi Caesar untuk mengeluarkan sang bayi. Mengingat air ketubannya telah habis. Awalnya, Tini dan Gatut menyetujuinya. Mereeka berdua setuju untuk melakukan operasi Caesar. Namun, ayah dari Gatut mengatakan “tidak !”. Beliau melarang apabila bayi tersebut dikeluarkan secara Caesar. Ayah Gatut lalu mendekati Tini dan membisikkan beberapa ayat suci Al-Qur’an. Tini diwajibkan untuk mengikuti dan membacakan setiap ayat yang telah dibisikkan ke telinganya.
Selama proses kelahirannnya, Tini terus-menerus menyebutkan ayat suci Al-Qur’an yang telah dibisikkan sebelumnya serta menekan-nekan bayinya agar keluar. Sekitar satu setengah jam proses kelahiran tersebut berlalu, bayi pertama dari perempuan perkasa ini akhirnya menghirup aroma dunia. Dengan berat yang sama dengan berat bayi pada umumnya, Tini lalu menangis melihat bayi tersebut keluar secara sehat dan cacad sedikitpun.Gatut lalu menggendong bayi perempuan tersebut dan mengumandangkan adzan tepat ditelingan kanannya. Bayi perempuan tersebut bernama Inten Widi Partyasari. Dia adalah anak pertama dari Tini dan Gatut serta pelengkap hidup pertama untuk Tini dan Gatut.
Tiga berlalu. Inten yang dulunya masih bayi, kini sudah dapat melihat dunia dan belajar berjalan sedikit demi sedikit. Mengingat umurnya yang sudah menginjak tiga tahun, anak perempuan tersebut perlahan-lahan mencoba untuk berdiri sendiri tanpa ragu. Sayangnya, Tini harus meninggalkan Inten bersama dengan Gatut di rumah sendirian karena dirinya mendapatkan tugas dinas ke luar kota. Tepat pada tahun 1996, Tini berangkat untuk dinas ke luar kota. Tugas dinas yang diberikan kepada Tini mendapatkan tenggang waktu selama satu bulan. Jadi, selama satu bulan, Tini terpisah dengan Gatut dan Inten. Setelah tugas dinasnya selesai, Tini bergegas kembali ke Kota Jayapura untuk menemui suami tercintanya dan juga buah hatinya. Sesampainya di Kota Jayapura, Tini dijemput oleh Gatut menggunakan Vespa kesayangan mereka sedangkan Inten sementara ditinggal di rumah. September 1996, Tini mengandung anak kedua. Ketika Tini mengandung anak kedua tersebut, Tini malah merasa sangat ringan. Dirinya selalu menyempatkan diri untuk berolah raga setiap pagi. Selalu melakukan senam kesehatan jantung dan tidak mengidamkan sesuatu yang aneh-aneh.
Sembilan bulan berlalu, jam dinding berdentang tepat pada pukul empat pagi. Tini yang merasa aneh dengan perutnya memanggil dokter kandungan melalui suster yang menjaga dirinya. Dokter memeriksa apa yang dirasakan oleh Tini dengan sedikit memijat perut Tini. Betapa terkejutnya Tini ketika mendengar bahwa bayi kedua yang dikandungnya akan lahir sebentar lagi. Dokter lalu mengambil semua peralatan yang diperlukan untuk proses kelahiran. Tini dipindahkan ke tempat tidur yang lebih nyaman.
Tepat pada pukul lima pagi, saat adzan subuh berkumandang membangunkan semua penduduk Kota Jayapura, bayi kedua Tini malah dengan mudah keluar dari rahimnya. Tini sempat bingung, apakah bayi tersebut sehat atau tidak. Tini merasa bahwa dirinya tidak melakukan dorongan yang begitu keras untuk mendorong bayinya. Seperti biasanya, Gatut segera mengadzankan anak alik-laki tersebut. Anak teresbut dilahirkan tepat pada fajar hari atau waktu subuh. Itulah adalasannya kenapa diberi nama “Fachri”. Tini dan Gatut merasa hidup mereka lebih berwarna lagi ketika ada tambahan anggota keluarga yang menemani.
Inten dan Fachri tumbuh menjadi anak yang sehat. Namun, kesehatan tersebut tidak dirasakan oleh Tini. Pada tahun 2005, Tini merasakan bahwa dirinya terasa berat untuk berjalan. Bahkan, untuk makan pun tidak mau. Kejadian ini berulang hingga satu minggu lamanya. Khawatir dengan keadaan sang istri, Gatut lalu membawa Tini ke dokter setempat. Dokter yang melihat keadaan Tini tiak mengetahui penyakit apa yang diderita oleh Tini. Gatut telah membawa Tini ke semua dokter umum yang ada di Kota Jayapura. Namun, tidak ada satupun diantara mereka yang dapat menyembuhkan penyakit dari Tini. Gatut lalu memutuskan untuk membawa Tini berobat ke Pulau Jawa. Tini menderita penyakit misterius kurang lebih tiga tahun. Mulai dari akhri tahun 2005 hingga tahun 2009. Itulah yang memaksa Tini untuk resign dari pekerjaannya. Sudah tidak pernah hadir di kantor selama kurang lebih tiga tahun, Tini memutuskan untuk keluar dari pekerjaannya. Setelah resign, Tini masih menjalani beberapa proses pennyembuhan. Walau sakit seperti itu, Tini tetap dengan semangat dan juga momok menakutkan yang selalu muncul di masa sekolah selalu muncul demi mengajarkan sopan santun kepada kedua anaknya.
Tanpa di sadari oleh Tini, waktu berlalu bergitu cepat. Inten telah masuk kedalam Sekolah Dasar (SD) Inpres 5.81 Waena, Jayapura. Sedangkan adiknya masih menimba ilmu di Taman Kanak-kanak (TK) Yapis Pembangunan. Jarak diantara kedua sekolah tidak terlalu jauh. Inten selanjutnya menimba ilmu di Sekolah Menengah Pertama (SMP) Negeri 11 Jayapura. Lalu, melanjutkannya ke Sekolah Menengah Atas (SMA) Negeri 1 Jayapura. Pendidikan tertinggi Inten berujung pada sebuah universitas ternama di Jawa Timur yaitu Universitas Brawijaya. Sedangkan adiknya, Fachri menimba ilmu di SD yang sama dengan Inten. Namun, untuk SMP, Fachri bersekolah di SMP Negeri 2 Jayapura. Melanjutkan pendidikan di SMA Negeri 3 Jayapura dan sekarang sedang mengemban pendidikan di salah satu universitas baru di Indonesia. Tetapi dengan konsep yang berbeda, yaitu research based learning atau pembelajaran riset. Universitas tersebut bernama Universitas Surya. Walau universitas ini baru berumur genap tiga tahun. Namun, penghargaan, inovasi, dan kreativitas yang ditunjukkan oleh mahasiswa Universitas Surya tidak kalah dengan universitas besar lainnya.
Tini kali ini hany berprofesi sebagai Ibu Rumah Tangga (IRT). Pekerjaan sehari-hari yang dilakukan adalah membersihkan rumah dan memasak untuk suami tercinta. Hanya untuk suami tercinta karena kedua anaknya kini telah mengemban pendidikan di sebuah universitas yang jauh dari tempat tinggal. Dengan kata lain, di luar kota. Tini dan Gatut ditinggal oleh kedua anaknya dirumah. Tini juga mempunyai usaha kecil-kecilan seperti membuat kue dan menjualnya ke tetangga-tetangga. Awalnya, Tinilah yang harus berkeliling untuk menjual kue bikinan tangannya tersebut. Kini, Tini hanya perlu diam dirumah, orang lain akan datang dan memesan kue bikinannya. Bukan hanya kue, yang biasanya di pesan juga berupa makanan berat seperti lalapan, soto ayam, dan ayam bakar. Usaha kecil-kecilan tersebut biasanya dibantu oleh anak laki-lakinya yang bernama Fachri. Fachri selalu menemaninya disaat Tini sedang membuat kue hingga pagi. Walau tertidur, Fachri tidak akan tidur di kamar, melainkan tidur di tempat dimana mereka membuat kue.
Untuk seorang ibu, melihat wajah anaknya yang sedang tidur adalah sebuah anugerah bagi mereka. Apalagi disaat melihat wajah anaknya yang baru pertama kali keluar dan melihat dunia. Seorang ibu tentunya akan menangis. Bukan menangis kesakitanlah yang menjadi alasannya. Tetapi, menangis karena bersyukur diberikan anugerah terindah dari Tuhan. Seorang anak yang akan menemani kehidupan mereka, menuruti setiap perkataan mereka, membantu mereka, bahkan sampai saling memarahi satu sama lain. Semua perasaan yang diberikan oleh anaknya kepada orang tuanya adalah sebuah anugerah untuk orang tuanya. Begitu juga anaknya ketika melihat wajah senyum dari kedua orang tuanya, bagaimana suara orang tuanya, bagaimana tingkah lucu kedua orang tuanya, dan bagaimana cara orang tuanya memarahinya. Bagi seorang anak, itulah anugerah terindah yang tak pernah terlupakan.
Terima kasih mama dan papa yang sudah menjaga saya selama sembilan bulan diperut mama dan selama 17 tahun tinggal bersama kalian. Kasih saying yang kalian berikan saat itu, mungkin tidak dapat diterima dengan otak kecil saya waktu itu. Oleh karena itu, dulu saya sering mengabaikan perintah kalian bahkan hingga membentak. Namun, ketika saya melihat air mata yang jatuh dari pipi ibu, terasa sangat menyakitkan untukku. Dari situlah saya sadar, betapa berharganya senyuman kalian. Tetaplah semangat dan tetap menjadi orang tua yang terbaik untukku. Khususunya ibu.


TERIMA KASIH MAMA

Tidak ada komentar:

Posting Komentar